dEwA 'N MnZz 'Blog Campur Aduk Blog'e Cah Surungan

Jumat, 05 Juli 2013

Widget Jadwal Adzan & Kalender Hijriyah

Assalamualaikum warahmatullahhi wabarakatuh..
selamat malam, selamat istirahat, selamat menuai mimpi indah teman-temanku dunia maya semua.
Meski malam ini terasa dingin menyentuh tulang, janganlah sampai membuat sedingin salju hati teman-teman menjumpai saya lagi disini.
Oke shobatku semua, saya akan langsung saja ke judul WIDGET JADWAL ADZAN & KALENDER HIJRIYAH.
Sebelumnya masih tentang kebiasaan basa-basi terdahulu, Buat yang sudah ngerti dan sudah pasang, silahkan ngopi-ngopi saja mrgreen , buat yang belum ngerti dan tak ingin pasang, cukup lewat saja tidak apa-apa, dan buat yang belum ngerti dan ingin memasangnya, silahkan di simak baik-baik.


Widget jadwal adzan

Kode:
 

Tampilan:

-untuk nama kota, warna background, warna text, juga border, bisa anda edit sendiri sesuai selera masing-masing.
-Hapus tanda bintang (*) dalam text-area.


Widget kalender hijriyah/masehi/hari & pasaran (jawa)
  Kode: 
   

Tampilan:


Widget Kalender Hijriyah (2)
Kode:
 

Tampilan:
phpimg2.php?it=rect&amp%3Bic

Widget Asma'ul Husna
Kode:
 

Tampilan:
Asmaul Husna

 Widget Ayat Suci Alqur'an
Kode:
 

Tampilan:
ayatimg.php? &text=000000&bg=CCCC99&bord

Semua widget diatas, selain Widget Kalender Hijriyah (2) bepsumber dari mahesajenar.com. Jika sewaktu-waktu widget diatas tidak berfungsi, itu berarti ada kesalahan dari sononya.
Untuk lebih jelasnya silahkan shobat kunjungi website resminya arrow mahesajenar.com.
Untuk memasang widget diatas ke dalam menu navigasi, shobat mwb cukup copy paste kode dalam tiap-tiap gambar diatas, sesuai yang di inginkan. Dan hapus tanda bintang (*)
Untuk warna background, warna text maupun border, silahkan di edit menurut selera masing-masing. Anda bisa cari kode warna DISINI
Oke... sekiranya cukup postingan dari saya malam ini yang tampak acak-acakan dan super semrawut dan juga smakin menambah beban loading saja. Di harap maklum dan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekurangan dan ketidak-nyamanan nya saat berada disini..
Special thanks to www.mahesajenar.com
Wassalamualaikum Wa rahmatullahhi wa barakaatuh.. Have a nice day, always to good luck

Kehidupan Nelayan di Pantai Morodemak



Kesibukan di Hari Sabtu (30/3)
Pantai Morodemak berada di Kecamatan Bonang, Demak. Hanya butuh waktu sekitar 90 menit bila menggunakan kendaraan roda dua dari Tembalang, Semarang. Namun, kita harus ekstra hati-hati karena jalan di Kecamatan Bonang rusak parah. Maka, disarankan  untuk tidak datang ketika memasuki musim penghujan. Tersedia juga angkutan publik yang selalu beroperasi hingga sekitar pukul 6 sore.  
Salah Satu Potret Kesibukan di PPP Morodemak

Begitu memasuki Kecamatan Bonang, kita langsung disambut oleh udara yang agak lengket dan wangi khas pesisir. Namun, di sepanjang jalan kita akan melihat deretan warna-warni perahu nelayan yang berbaris rapi di sepanjang bantaran  kali. Dari yang berukuran besar hingga yang paling kecil, unik sekali.

Seorang Nelayan sedang Membersihkan Jaring
Bila kita datang sekitar pukul 5 pagi, kita akan menemui nelayan yang pergi melaut. Bahkan kita dapat menemui juga aktivitas para nelayan lainnya, seperti membetulkan perahu secara gotong royong, menurunkan hasil tangkapan, dan masih banyak lagi moment yang sangat menarik, karena keriuhan seperti ini jarang sekali dapat ditemui. 
Nelayan sedang Menuurunkan Hasil Tangkapan
Sesampainya di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Morodemak atau Tempat Pelelangan Ikan (TPI), kita harus menyewa perahu terlebih dahulu apabila ingin menuju ke Pantai Morodemak dan hutan mangrove. Harga yang ditawarkan pun tergantung dari lamanya waktu yang diinginkan. Kemarin, seorang nelayan menawarkan harga sebesar Rp 30.000 pulang-pergi (PP) untuk 4 orang. Namun, menurut seorang polisi pantai, harga sebesar itu masih terbilang mahal, dan menyuruh kami untuk menawarnya lagi karena lokasi pantai memang tidak terlalu jauh.
Sejenak Merenung

Keadaan pantainya sendiri, yakni landai, berpasir hitam, bahkan cenderung berbatu kerikil, dan tidak adanya pohon di sekitar pantai, menurut nelayan sekitar (karena kemarin aku tidak menuju ke pantai). Menurutku, justru akan jauh lebih menarik bila datang kesini dengan tujuan melihat sisi kehidupan nelayan, daripada sekadar untuk rekreasi ke pantai.

Ribuan Nelayan Gelar Karnaval Ruwahan

Written By Sena on Senin, 16 Juli 2012 | 13.25

 

KARNAVAL: Karnaval Ruwahan sudah menjadi tgradisi warga Desa Purworejo Bonang. (HARSEM/SUKMA WIJAYA)

DEMAK-Menjelang Ramadan, warga Desa Purworejo Bonang atau masyarakat pesisir pantai Morodemak melakukan tradisi ruhawan dengan menggelar karnaval. 

BERBAGAI jenis peran dan lakon disajikan dalam arak-arakan karnaval. Dari budaya daerah barongan, kuda lumping,  rombogan jamaah haji hingga sejumlah peran tokoh pahlawan serta candi-candi peninggalan sejarah.

Arak-arakan pawai menelusuri Jalan Raya Bonang-Demak. Ribuan penonton merasa terhibur dengan pawai yang terkenal dengan nama karnaval ruwahan. Sepanjang jalan utama kampung nelayan terbesar se-Jateng ini, padat dipenuhi peserta oleh arak-arakan. Warga yang melintas harus bersabar, menepi di pinggir jalan dekat muara. 

Kades Purworejo, Ali Mas’ad menjelaskan, pertengahan bulan Ruwah atau ruwahan, warga selalu menggelar tradisi arak-arakan. Karrnaval diadakan sebagai bentuk peghormatan dan terima kasih dari para sesepuh di tanah Purworejo. Sesepuh seperti Mbah Samsu Tamzes, H Mawardi, K Supardi, K Mualim H Damauhun, atau H Maksum yang berjuang menyiarkan agama Islam di pesisir Demak.

“Warga ingin menghormati perjuangan mereka dengan menggelar budaya karnaval saat pertengahan bulan Ruwah,” jelas Ali. 

Tambahnya, karnaval dimulai dari Makam Mbah Samsu Tamzes yang merupakan sesepuh dari Desa Purworejo. Sedikitnya 32 rombongan karnawal dari 67 RT memamerkan arak-arakan ini.

Warga Desa Purworejo, Mustain (38) merasa bangga dengan tradisi tahunan yang selalu digelar. Selain menumbuhkan rasa cinta kedaerahan, sekaligus sebagai ajang kreatifitas pemuda dalam menampilkan kebolehannya.

Sesepuh yang selalu dihormati warga Purworejo yaitu Mbah Samsu Tamzes adalah seorang kiai yang taat menyiarkan Islam. Kematian sang kiai merupakan misteri, jenasahnya terapung di lautan, tak karam dan tak hanyut kemana-mana.

Ketika itu kapal milik seorang pedagang dari suku Bugis Makasar  menabrak mayat kiai. Kapal itu tak bisa berlabuh, saat diketahui karena menabrak mayat. Sang pedagang berteriak “hai mayat bila engkau mayat yang baik, biarlah aku berdagang dulu ke Semarang. Kalau laris semua, akan aku rawat kau selayaknya manusia.”

Ternyata benar, dagangan milik orang Bugis itu laris. Karena sudah berjanji orang Bugis itu kembali dan masih melihat mayat kiai di tempat semula. Jenazah akhirnya dimakamkan di desa Morodemak. Pada tahun 1355 masehi, makam Mbah Samsu Tamzes dipindah masyarakat di Desa Purworejo. (swi/16)

Perahu Larung Terguling, Sebuah Pertanda?

Written By Sena on Selasa, 28 Agustus 2012 | 09.58

 TERGULING: Timas SAR mendirikan kembali perahu larung yang terguling. (HARSEM/SUKMA WIJAYA)
DEMAK-Tradisi sedekah laut dan larung sesaji di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Morodemak Desa Purworejo Bonang, kemarin ditandai tergulingnya perahu sesaji. Sejumlah orang bertanya-tanya pertanda apa?

SUDAH menjadi tradisi, tiga desa di kecamatan Bonang, yaitu Morodemak, Purworejo, dan Margolinduk menggelar tradisi sedekah laut dan larung sesaji setiap 7 Syawal. Ini sebagai simbol rasa syukur nelayan atas tangkapan ikan selama setahun.
 
Oleh pemerintah daerah, tradisi dimasukkan dalam agenda wisata tahunan. Dimeriahkan hiburan wayang kulit, orkes dangdut hingga layar tancap. Prosesi larung dilakukan secara sakral oleh bupati dengan dikawal prajurit petangpuluhan (empat puluhan), muspida, dan masyarakat.    
 
Sudah menjadi kepercayaan, sedekah laut akan meningkatkan tangkapan ikan. “Pernah beberapa tahun lalu warga tak mengadakan sedekah laut.  Entah kebetulan atau tidak, nelayan sulit mencari ikan,” ungkap sesepuh Desa Purworejo, H Iskandar.
 
Dipercaya masyarakat, penunggu di pesisir Morodemak benama Jeliteng. Nelayan menduga Jeliteng mengganggu nelayan menangkap ikan. Seseorang kiai mengingatkan agar menggelar sedekah laut sebagai wujud syukur pada pencipta. Warga manut, dan ternyata ada perbedaan dengan kondisi sebelumnya. Akhirnya warga menyakini perlu ada sedekah laut.
 
Soal perahu larung berisi sesaji yang terguling, Iskandar tak berani menduga sebagai firasat. Dia berdoa tak menjadi pertanda dari sebuah musibah. “Kasihan warga di tiga desa tersebut rata-rata berpenghasilan kurang atau miskin, semoga tak ada apa-apa,” saut Kades Purworejo Ali Mas’ad.
 
Tradisi sedekah laut sudah menjadi ajang silaturahmi para masyarakat nelayan. Persoalan perahu terguling semoga bukan menjadi pertanda akan terjadinya peristiwa yang merugikan masyarakat pesisir.

Terpisah, Plt Bupati HM Dachirin Said mengutarakan sedekah laut merupakan tradisi apik yang dikemas dalam agenda wisata tahunan. “Kami kemas secara profesional sehingga bisa menyerap pemasukan daerah,” ungkapnya. Sekaligus memberikan lahan pekerjaan kepada masyarakat sekitar.
 
Dachirin membantah jumlah pengujung turun. Dia mengakui ada tradisi serupa di pesisir Wedung tak jauh dari Morodemak. “Sedekah laut di Wedung juga kami dukung untuk mendulang wisatawan,” kata Dachirin.
 
Keramaian di Wedung juga mengundang minat pengunjung. Perusda Anwusa menggelar orkes dangdut di Pantai Morosari Kecamatan Sayung dan membuka even acara syawalan di Taman Ria Demak.
 
“Biasanya sedekah laut di Morodemak ramai hingga jalan menuju pelabuhan macet. Sekarang pengunjung berkurang,” ungkap Edi Purhadi warga Bonang.
 
Sedekah laut Morodemak tahun lalu hingga dipadati puluhan ribu pengunjung. Sekarang tak sampai lima ribu.
 
Edi mengakui menyusutnya pengunjung akibat terserap even-even hiburan di temnpat lain. Dia juga masyarakat lebih memilih mengunjungi kerabat atau saudaranya saat syawalan ketimbang pergi ke lokasi hiburan yang ramai. (swi/16)

 

Relasi Gender Pada Warga Morodemak Dan Sekitarnya

 
Morodemak atau dikenal dengan “Wong Moro” merupakan komunitas masyarakat nelayan yang secara administrative berada di tiga desa yaitu Margolinduk,purworejo dan Morodemak.Ketiga desa tersebut berada di kecamatan Bonang kabupaten Demak.Ketiga desa tersebut bias ditempuh dengan kendaraan umum dari kota Demak(sebagai pusat pemerintahan) kurang lebih satu jam perjalanan.Demak sendiri secara administrative terdiri dari 247 kelurahan dan 14 kecamatan yang meliputi : Bonang ,Demak, Dempet ,Gajah ,Guntur ,Karanganyar ,karangawen ,karangtengah ,kebonagung, Mijen, Mranggen,Sayung,Wedung,Wonosalam.
Di Kecamatan Bonang terdapat desa yang bernama Morodemak yang mayoritas penduduknya sebagai nelayan,namun ada satu hal yang paling menonjol dan telah manjadi sebuah budaya yang lekat dalam masyarakat yakni Laki-laki di Morodemak dikontruksikan sebagai pemimpin dan pencari nafkah, Sementara perempuan menjadi ibu rumah tangga dan sebagian pencari nafkah tambahan. Orang-orang tua disana berkeyakinan bahwa perempuan sudah sepatutnya makan hasil keringat laki-laki.Kalau suami atau ayahnya penghasilannya kurang,maka perempuan harus “nrimo” ( Bisa Menerima apa adanya).Untuk menyampaikan konsep atau mengkomunikasikan hal tersebut biasanya para perempuan yang ada di desa Morodemak dinasehati oleh orang tua “ wong wadon iku enak-enak manut wong lanang” (perempuan itu paling enak kalau mengikuti apa yang diinginkan laki-laki. Perempuan “hanya” diiperbolehkan “njagakke bojone thok” (menghandalkan suaminya saja ) dalam soal mencari uang.(lovelove.blogspot.com) 12/05/2010
Perbedaan pola pengakuan eksistensi terhadap laki-laki dan perempuan di Morodemak bahkan terjadi sejak masih usia dini.Bagi remaja misalnya. Remaja yang sudah lulus SMP/MTS atau lulus SD bagi perempuan langsung mendapatkan kewajiban mengerjakan pekerjaan domestik,sedangkan laki-laki tidak. Sementara bagi remaja laki-laki,setelah lulus mereka tidak dibebani kewajiban apapun. Mereka dibiarkan blulang-blulang ( lontang-lantung ,kumpul sana kumpul sini ).Jika mereka ingin bekerja, lapangan pekerjaan (miyang-pergi melaut) terbuka lebar bagi mereka.Saat Musim paceklik seperti ini,perempuan pesisir memiliki peranan penting dalam keluarga.Ketika suami libur miyang (tidal melaut) karena musim paceklik, aktivitas yang mungkin dilakukan adalah memperbaiki alat produksi,seperti ngiteng (memperbaiki jaring).Sebaliknya,istri nelayan memiliki beban kerja yang teramat berat.
Para perempuan nelayan harus mempersiapkan bekal melaut, saat suami berangkat miyang.Disamping itu, mereka juga mesti menjual hasil tangkapan dan memerankan diri sebagai manajer keuangan keluarga. Saat paceklik tiba, mereka pun harus mencari hutangan kepada tetangga dan bank thithil (BPR keliling).Jika tak diperoleh, dengan terpaksa mereka menggadaikan peralatan rumah tangga, seperti piring,radio, dan peralatan rumah tangga lainnya.
Pada umumnya , peran perempuan nelayan adalah menyiapkan perbekalan, mengolah dan menjual hasil tangkapan, menyelesaikan kerja-kerja domestic (mengurus anak-anak,membersihkan rumah, memesak, mencuci pakaian, dan sebagainya), serta peran sebagai manajer keuangan keluarga.Mereka tak mengenal libur. Berbeda halnya dengan suami mereka saat tak bias melaut.Beban kerja semacam inilah kemudian bias dikatakan sebagai diskriminasi gender. Salah satun penyebabnya adalah masih kuatnya budaya patriarki (mengenai hubungan keturunan melalui garis kerabat pria saja).
Nelayan yang miyang di malam hari hanya bekerja paling banyak 17 hari dalam sebulan ( masa petangan ), sementara nelayan yang bekerja siang hari setiap hari jum’at libur. Dengan catatan tersebut hari libur laki – laki nelayan sangat banyak dibanding pekerjaan perempuan yang bisa dikatakan tidak pernah libur. Pekerjaan sebagai nelayan / jurag dianggap pekerjaan yang paling rendah, karena tidak pernah menolak tenaga kerja ( laki – laki ), tidak membutuhkan modal uang. Pekerjaan ini hanya mengandalkan tenaga saja. Apalagi umumnya para nelayan / jurag tidak mempunyai investasi apa – apa hingga masa tuanya, masa ia tidak mampu lagi bekerja sebagai jurag. Mereka merasa pekerjaan di darat selalu lebih baik dibanding bekerja di laut dengan berbagai resiko alam dan resiko ekonomi. (Ruangasa.blogspot.com)
Perempuan dan laki – laki di lingkungan nelayan Morodemak ini dibagun dengan konsep yang berbeda. Laki – laki dikonsepkan sebagai pemimpin dan pencari nafkah, sementara perempuan menjadi ibu rumah tangga dan sebagian pencari nafkah tambahan. Mayarakat nelayan yang tua – tua berkeyakinan bahwa perempuan sudah sepatutnya makan hasil keringat laki – laki. Kalau suami atau ayahnya penghasilannya kurang, maka perempuan harus nrimo. Untuk menyampaikan konsep tersebut biasanya para perempuan yang di anggap tua bilang “ wong wadon iku enak – enak manul wong lanang “ ( perempuan itu paling enak kalau mengikuti apa yang diinginkan laki – laki ).
Bagi masyarakat Morodemak, kepemimpinan laki – laki memang hasil benar – benar diami. Perempuan diperbolehkan njagakke bojone thok ( menghandalkan suaminya saja ) dalam soal mencari uang.
Umi adalah salah seorang gadis yang tidak percaya diri karena dalam usianya 21 tahun belum menikah. Yang menambah rasa rendah dirinya lagi adalah ia merasa tidak berpengalaman. Ia tidak tahu dunia luar. Orang tuanya selalu melarangnya untuk pergi – pergi. Mereka juga tidak menginginkan anak perempuannya bekerja. Carone iku ora kepingin kayane wong wedok.( maksudnya tidak menginginkan hasil kerja ( uang ) perempuan ). Keluarganya berkeyakinan bahwa yang harus mencari nafkah adalah laki – laki. Perempuan tidak perlu bekerja karena itu bukan tanggung jawabnya.
Konsekwensinya, ibunya dan semua anak perempuannya harus nrimo ( menerima apa adanya ) dari hasil kerja laki –laki. Sementara Umi sebenarnya ingin maju, ingin bisa mandiri dan bekerja. Pekerjaan yang dia inginkan adalah pekerjaan yang bukan pembantu rumah tangga. Menurutnya menjadi pembantu rumah tangga itu tidak baik karena langsung berada di bawah perintah majikan. Ia menginginkan pekerjaan di luar rumah majikan. Seperti konfeksi atau menjaga toko.Perbedaan pola pengakuan eksistensi terhadap laki – laki dan perempuan di Morodemak memang masih sangat kental. Bagi remaja misalnya. Remaja yang sudah lulus SMP/MTS atau lulus SD bagi yang perempuan langsung mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan ini adalah memasak, mencuci momong (menjaga anak kecil ) dan bersih – bersih rumah. Meskipun pekerjaan ini menyita umur dan waktu mereka, remaja putrid kehitung menganggur. Padahal untuk bisa pergi main kerumah teman saja,mereka harus mengatur waktu supaya tidak menganggu “ pekerjaan utama “mereka.
Sementara bagi remaja laki – laki, setelah lulus mereka tidak dibebani kewajiban apapun. Mereka dibiarkan blulang – blulang ( lontang – lantung, kumpul sana kumpul sini ). Jika mereka ingin bekerja, lapangan pekerjaan (miyang) terbuka lebar bagi mereka. Tapi biasanya remaja laki – laki hanya mau miyang kalau sudah mau menikah. Bagi sebagian kecil remaja laki – laki, miyang adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Misalnya kalau orang tua mereka tidak mampu membayar biaya ujian sekolah, anak MTS akan ikut miyang. Bagennya ( bagian hasil ) akan digunakan untuk membayar uang ujian.
Pekerjaan miyang sebenarnya pekerjaan yang dibenci oleh kawula muda Morodemak. Tapi apa boleh buat, hanya, hanya pekerjaan ini yang tidak meminta ijazah dan tidak menuntut pengalaman. Karena itu sebelum akan menikah remaja laki – laki lebih memilih blulang – blulang dibanding berlatih miyang. Kebutuhan akan pencarian jati diri pada remaja laki – laki dan perempuan sebenarnya sama. Tapi karena “doktrin” laki – laki dan perempuan berbeda, proses penerimaan masyarakat pun jauh berbeda. Remaja laki –laki dianggap wajar jika melakukan sesuatu yang sufatnya menunjukan rasa percaya diri dan mengekspose diri. Tapi jika itu dilakukan remaja perempuan, maka akan banyak stempel yang dilebelkan.
Nadhir misalnya, meskipun ia punya kewajiban momong, sambil momong ia pergi bermain menemani teman laki – laki atau perempuannya. Prilaku ini di sambut dengan stempel – stempel buruk. “nadhir saiki tambeng” ( nadhir sekarang jadi nakal ). Ataupun ratna misalnya, remaja yang percaya diri ini disebut “lanangan terus” ( sukanya memburu laki – laki terus ). Di Morodemak, gadis yang di anggap baik adalah gadis yang sering tingal di rumah dan tidak suka keluar rumah. Apalagi mereka yang mengekspose diri. Masyarakat akan menganggapnya sebagai gadis yang tidak baik. Jadi remaja putri yang dianggap baik adalah remaja putrid yang selalu dirumah dan haya pergi jauh bersama keluarga / saudaranya. (Ruangasa.blogspot.com)
Bagi remaja putri maupun laki – laki, kebutuhan untuk mencari jati diri sebenarnya sama. Remaja laki – laki biasanya dibiarkan menjalani proses pencarian jati diri. Mereka dimaklumi sebagian mereka naik motor kesana kesini, mengecat rambutnya, menyembelih kambing muda untuk mayoran ( semacam pesta kecil, makan – makan ) atau membuat kelompok yang kegitannya hanya kesana kemari. Tapi remaja putri penuh stigma dalam proses pencarian jati diri mereka. Banyak aturan yang diterapkan bagi remaja putri. Tidak boleh pergi jauh, tidak boleh pacaran diluar rumah, tidak boleh banyak bergaul dengan remaja laki – laki dan tidak boleh- tidak yang lain.
Karena itu untuk bisa mengikuti sebuah kegiatan, anak gadis nelayan harus mendapat ijin dari orang tua, sebagian harus tidak menanggung tanggung jawab domestiknya, harusnya mendapat ijin dari tunangannya. Karena relasi yang timpang perempuan yang muda sering menjadi obyek pelecehan setiap perempuan yang nampak masih muda selalu menjadi bahan pembicaraan dan sering dilecehkan di kongsi / tempat pelelangan ikan. Kebiasan buruk ini di maklumi oleh lingkungan di kongsi.
Kondisi ini kian diperparah oleh tiadanya pengakuan atas hak-hak konstitusional perempuan di dalam undang-undang di dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang perikanan. Dalam undang-undang ini , nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan (Pasal 1 ayat 10). Dengan definisi ini, maka hanya laki-laki yang bias disebut sebagai nelayan karena secara umum pekerjaan ini hanya dilakukan oleh laki-laki. Sebaliknya, perempuan nelayan tak tergolong sebagai nelayan, mengingat aktivitas yang dilakukannya selepas penangkapan ikan.
Seperti kita ketahui, perempuan mempunyai andil amat besar dalam berkelanjutan kehidupan masyarakat pesisir,Jika kelalaian ini terus dibiarkan ,bisa dipastikan bahwa perempuan nelayan akan terus terjebak pada zona yang seperti ini,akan selalu terhambat oleh budaya dan ideology yang ada.Mereka tidak dapat mengkomunikasikan apa yang mereka inginkan.
Munculnya ketidaksetaraan gender sebagai ideologi umum yang menjadi cara pandang masyarakat terhadap eksistensi perempuan, tidak terlepas dari cerita sejarah berkaitan dengan lahirnya perbedaan gender (gender differences) antara manusia laki-laki dan perempuan.Prosesnya panjang dan perbedaan itu dikarenakan oleh banyak hal ,diantaranya bentuk,disosialisasikan ,diperkuat bahkan dikonstruksikan secara cultural atau social ,melalui ajaran moral dan adat istiadat ,sehingga sosialisasi gender  yang panjang itu akhirnya dianggap sebagai ketentuan  tuhan dan bersifat biologis yang tidak bisa diubah-ubah lagi.Ini berarti bahwa perbedaan-perbedaan gender itu telah dipersepsi sebagai kodrat laki-laki dan kodrat perempuan yang harus diterima apa adanya.
Sumber : 
Laode,Yahya.(2009).Perlawanan Terhadap Dominasi Laki-Laki Morodemak: Analisis framing Majalah Kabar

Gumuk Pasir Morodemak, Lokasi Wisata Baru yang Langka

Written By Tonie Demak on Senin, 15 Oktober 2012 | 12.53 



DEMAK- Fenomena alam, munculnya gumuk atau gundukan pasir (sand dune) di wilayah pesisir Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Morodemak Desa Purworejo Kecamatan Bonang, mulai mengundang perhatian masyarakat. Warga setempat tertarik gumuk sebagai lahan rekreasi baru dan murah.

Munculnya Gumuk Pasir merupakan kejadian alam yang langka dan jarang ditemui di daerah tropis, khususnya di Kabupaten Demak. Lokasi gumuk tepat muncul di muara sungai Tuntang Lama yang bertemu dengan perairan pantai Bonang.

Menurut tokoh masyarakat Desa Purworejo H Ismail, sudah belasan tahun gumuk pasir muncul di lokasi dekat pelabuhan. “Kemungkinan sekitar tahun 2000, awalnya gumuk belum begitu luas, namun sekarang hingga 2.000 meter persegi,” ungkap Ismail, kemarin.

Warga sekitar atau pendatang sering mengunjungi gumuk itu, untuk ajang rekreasi dan bermain pasir anak-anak. Karena ada semacam tanah timbul di lokasi laut, sebagian pengunjung ada yang memancing ikan dari lokasi tersebut.

Untuk sampai ke Gumuk Pasir, warga harus menumpang perahu dengan ongkor Rp 10.000 pulang-pergi per orang. “Sengaja anak-anak saya ajak ke gumuk, selain main pasir mereka bermain air laut di sekitarnya,” ucap Fatimah (38), warga Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak.

Dia bersama suami dan kedua anaknya, datang saat pagi hari sehingga sinar matahari tak terlalu terik. Berbekal minuman dan jajan, Fatimah membiarkan anak-anaknya bermain pasir dan sesekali berlarian di air laut yang dangkal.

Dalam perkembangannya, gumuk cukup menarik minat pengunjung, selain berekreasi sekaligus mengenalkan anak-anaknya udara laut yang mengandung unsur kesehatan. Terpisah, Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Heru Budiono mengakui kemunculan gumuk pasir mengundang perhatian warga. Banyak pengunjung berwisata di areal gumuk, bahkan beberapa pedagang kerap menjajakan makanan dan minuman dilengkapi dengan tenda.

Heru menambahkan, gumuk pasir tersebut sebenarnya labil dan bukan tanah timbul (akresi). “Gumuk muncul karena ombak laut yang selalu membawa material pasir hingga menumpuk bertahun-tahun. Karena lapisan pasir sangat tebal, pengunjung yang berdiri di atasnya tak merasakan pergerakan pasir,” ungkapnya.

Namun lapisan pasir di atas akan tergerus ombak, ketika arah gelombang laut berubah-ubah. Ketika ditanya untuk didirikan bangunan, Heru tak berani mengatakan bisa, karena posisi gumuk yang labil dan tidak padat, kurang baik untuk pondasi.

Tetapi Heru setuju bila lokasi gumuk sebagai ajang wisata laut, namun harus ada petugas yang selalu mengawasinya terkait keselamatan pengunjung serta pelestarian gumuk tersebut. Karena lokasi gumuk berada di laut dalam. (swi/15)