Morodemak atau dikenal dengan “Wong Moro” merupakan komunitas masyarakat nelayan yang secara administrative berada di tiga desa yaitu Margolinduk,purworejo dan Morodemak.Ketiga desa tersebut berada di kecamatan Bonang kabupaten Demak.Ketiga desa tersebut bias ditempuh dengan kendaraan umum dari kota Demak(sebagai pusat pemerintahan) kurang lebih satu jam perjalanan.Demak sendiri secara administrative terdiri dari 247 kelurahan dan 14 kecamatan yang meliputi : Bonang ,Demak, Dempet ,Gajah ,Guntur ,Karanganyar ,karangawen ,karangtengah ,kebonagung, Mijen, Mranggen,Sayung,Wedung,Wonosalam.
Di Kecamatan Bonang terdapat desa yang bernama Morodemak yang mayoritas penduduknya sebagai nelayan,namun ada satu hal yang paling menonjol dan telah manjadi sebuah budaya yang lekat dalam masyarakat yakni Laki-laki di Morodemak dikontruksikan sebagai pemimpin dan pencari nafkah, Sementara perempuan menjadi ibu rumah tangga dan sebagian pencari nafkah tambahan. Orang-orang tua disana berkeyakinan bahwa perempuan sudah sepatutnya makan hasil keringat laki-laki.Kalau suami atau ayahnya penghasilannya kurang,maka perempuan harus “nrimo” ( Bisa Menerima apa adanya).Untuk menyampaikan konsep atau mengkomunikasikan hal tersebut biasanya para perempuan yang ada di desa Morodemak dinasehati oleh orang tua “ wong wadon iku enak-enak manut wong lanang” (perempuan itu paling enak kalau mengikuti apa yang diinginkan laki-laki. Perempuan “hanya” diiperbolehkan “njagakke bojone thok” (menghandalkan suaminya saja ) dalam soal mencari uang.(lovelove.blogspot.com) 12/05/2010
Perbedaan pola pengakuan eksistensi terhadap laki-laki dan perempuan di Morodemak bahkan terjadi sejak masih usia dini.Bagi remaja misalnya. Remaja yang sudah lulus SMP/MTS atau lulus SD bagi perempuan langsung mendapatkan kewajiban mengerjakan pekerjaan domestik,sedangkan laki-laki tidak. Sementara bagi remaja laki-laki,setelah lulus mereka tidak dibebani kewajiban apapun. Mereka dibiarkan blulang-blulang ( lontang-lantung ,kumpul sana kumpul sini ).Jika mereka ingin bekerja, lapangan pekerjaan (miyang-pergi melaut) terbuka lebar bagi mereka.Saat Musim paceklik seperti ini,perempuan pesisir memiliki peranan penting dalam keluarga.Ketika suami libur miyang (tidal melaut) karena musim paceklik, aktivitas yang mungkin dilakukan adalah memperbaiki alat produksi,seperti ngiteng (memperbaiki jaring).Sebaliknya,istri nelayan memiliki beban kerja yang teramat berat.
Para perempuan nelayan harus mempersiapkan bekal melaut, saat suami berangkat miyang.Disamping itu, mereka juga mesti menjual hasil tangkapan dan memerankan diri sebagai manajer keuangan keluarga. Saat paceklik tiba, mereka pun harus mencari hutangan kepada tetangga dan bank thithil (BPR keliling).Jika tak diperoleh, dengan terpaksa mereka menggadaikan peralatan rumah tangga, seperti piring,radio, dan peralatan rumah tangga lainnya.
Pada umumnya , peran perempuan nelayan adalah menyiapkan perbekalan, mengolah dan menjual hasil tangkapan, menyelesaikan kerja-kerja domestic (mengurus anak-anak,membersihkan rumah, memesak, mencuci pakaian, dan sebagainya), serta peran sebagai manajer keuangan keluarga.Mereka tak mengenal libur. Berbeda halnya dengan suami mereka saat tak bias melaut.Beban kerja semacam inilah kemudian bias dikatakan sebagai diskriminasi gender. Salah satun penyebabnya adalah masih kuatnya budaya patriarki (mengenai hubungan keturunan melalui garis kerabat pria saja).
Nelayan yang miyang di malam hari hanya bekerja paling banyak 17 hari dalam sebulan ( masa petangan ), sementara nelayan yang bekerja siang hari setiap hari jum’at libur. Dengan catatan tersebut hari libur laki – laki nelayan sangat banyak dibanding pekerjaan perempuan yang bisa dikatakan tidak pernah libur. Pekerjaan sebagai nelayan / jurag dianggap pekerjaan yang paling rendah, karena tidak pernah menolak tenaga kerja ( laki – laki ), tidak membutuhkan modal uang. Pekerjaan ini hanya mengandalkan tenaga saja. Apalagi umumnya para nelayan / jurag tidak mempunyai investasi apa – apa hingga masa tuanya, masa ia tidak mampu lagi bekerja sebagai jurag. Mereka merasa pekerjaan di darat selalu lebih baik dibanding bekerja di laut dengan berbagai resiko alam dan resiko ekonomi. (Ruangasa.blogspot.com)
Perempuan dan laki – laki di lingkungan nelayan Morodemak ini dibagun dengan konsep yang berbeda. Laki – laki dikonsepkan sebagai pemimpin dan pencari nafkah, sementara perempuan menjadi ibu rumah tangga dan sebagian pencari nafkah tambahan. Mayarakat nelayan yang tua – tua berkeyakinan bahwa perempuan sudah sepatutnya makan hasil keringat laki – laki. Kalau suami atau ayahnya penghasilannya kurang, maka perempuan harus nrimo. Untuk menyampaikan konsep tersebut biasanya para perempuan yang di anggap tua bilang “ wong wadon iku enak – enak manul wong lanang “ ( perempuan itu paling enak kalau mengikuti apa yang diinginkan laki – laki ).
Bagi masyarakat Morodemak, kepemimpinan laki – laki memang hasil benar – benar diami. Perempuan diperbolehkan njagakke bojone thok ( menghandalkan suaminya saja ) dalam soal mencari uang.
Umi adalah salah seorang gadis yang tidak percaya diri karena dalam usianya 21 tahun belum menikah. Yang menambah rasa rendah dirinya lagi adalah ia merasa tidak berpengalaman. Ia tidak tahu dunia luar. Orang tuanya selalu melarangnya untuk pergi – pergi. Mereka juga tidak menginginkan anak perempuannya bekerja. Carone iku ora kepingin kayane wong wedok.( maksudnya tidak menginginkan hasil kerja ( uang ) perempuan ). Keluarganya berkeyakinan bahwa yang harus mencari nafkah adalah laki – laki. Perempuan tidak perlu bekerja karena itu bukan tanggung jawabnya.
Konsekwensinya, ibunya dan semua anak perempuannya harus nrimo ( menerima apa adanya ) dari hasil kerja laki –laki. Sementara Umi sebenarnya ingin maju, ingin bisa mandiri dan bekerja. Pekerjaan yang dia inginkan adalah pekerjaan yang bukan pembantu rumah tangga. Menurutnya menjadi pembantu rumah tangga itu tidak baik karena langsung berada di bawah perintah majikan. Ia menginginkan pekerjaan di luar rumah majikan. Seperti konfeksi atau menjaga toko.Perbedaan pola pengakuan eksistensi terhadap laki – laki dan perempuan di Morodemak memang masih sangat kental. Bagi remaja misalnya. Remaja yang sudah lulus SMP/MTS atau lulus SD bagi yang perempuan langsung mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan ini adalah memasak, mencuci momong (menjaga anak kecil ) dan bersih – bersih rumah. Meskipun pekerjaan ini menyita umur dan waktu mereka, remaja putrid kehitung menganggur. Padahal untuk bisa pergi main kerumah teman saja,mereka harus mengatur waktu supaya tidak menganggu “ pekerjaan utama “mereka.
Sementara bagi remaja laki – laki, setelah lulus mereka tidak dibebani kewajiban apapun. Mereka dibiarkan blulang – blulang ( lontang – lantung, kumpul sana kumpul sini ). Jika mereka ingin bekerja, lapangan pekerjaan (miyang) terbuka lebar bagi mereka. Tapi biasanya remaja laki – laki hanya mau miyang kalau sudah mau menikah. Bagi sebagian kecil remaja laki – laki, miyang adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Misalnya kalau orang tua mereka tidak mampu membayar biaya ujian sekolah, anak MTS akan ikut miyang. Bagennya ( bagian hasil ) akan digunakan untuk membayar uang ujian.
Pekerjaan miyang sebenarnya pekerjaan yang dibenci oleh kawula muda Morodemak. Tapi apa boleh buat, hanya, hanya pekerjaan ini yang tidak meminta ijazah dan tidak menuntut pengalaman. Karena itu sebelum akan menikah remaja laki – laki lebih memilih blulang – blulang dibanding berlatih miyang. Kebutuhan akan pencarian jati diri pada remaja laki – laki dan perempuan sebenarnya sama. Tapi karena “doktrin” laki – laki dan perempuan berbeda, proses penerimaan masyarakat pun jauh berbeda. Remaja laki –laki dianggap wajar jika melakukan sesuatu yang sufatnya menunjukan rasa percaya diri dan mengekspose diri. Tapi jika itu dilakukan remaja perempuan, maka akan banyak stempel yang dilebelkan.
Nadhir misalnya, meskipun ia punya kewajiban momong, sambil momong ia pergi bermain menemani teman laki – laki atau perempuannya. Prilaku ini di sambut dengan stempel – stempel buruk. “nadhir saiki tambeng” ( nadhir sekarang jadi nakal ). Ataupun ratna misalnya, remaja yang percaya diri ini disebut “lanangan terus” ( sukanya memburu laki – laki terus ). Di Morodemak, gadis yang di anggap baik adalah gadis yang sering tingal di rumah dan tidak suka keluar rumah. Apalagi mereka yang mengekspose diri. Masyarakat akan menganggapnya sebagai gadis yang tidak baik. Jadi remaja putri yang dianggap baik adalah remaja putrid yang selalu dirumah dan haya pergi jauh bersama keluarga / saudaranya. (Ruangasa.blogspot.com)
Bagi remaja putri maupun laki – laki, kebutuhan untuk mencari jati diri sebenarnya sama. Remaja laki – laki biasanya dibiarkan menjalani proses pencarian jati diri. Mereka dimaklumi sebagian mereka naik motor kesana kesini, mengecat rambutnya, menyembelih kambing muda untuk mayoran ( semacam pesta kecil, makan – makan ) atau membuat kelompok yang kegitannya hanya kesana kemari. Tapi remaja putri penuh stigma dalam proses pencarian jati diri mereka. Banyak aturan yang diterapkan bagi remaja putri. Tidak boleh pergi jauh, tidak boleh pacaran diluar rumah, tidak boleh banyak bergaul dengan remaja laki – laki dan tidak boleh- tidak yang lain.
Karena itu untuk bisa mengikuti sebuah kegiatan, anak gadis nelayan harus mendapat ijin dari orang tua, sebagian harus tidak menanggung tanggung jawab domestiknya, harusnya mendapat ijin dari tunangannya. Karena relasi yang timpang perempuan yang muda sering menjadi obyek pelecehan setiap perempuan yang nampak masih muda selalu menjadi bahan pembicaraan dan sering dilecehkan di kongsi / tempat pelelangan ikan. Kebiasan buruk ini di maklumi oleh lingkungan di kongsi.
Kondisi ini kian diperparah oleh tiadanya pengakuan atas hak-hak konstitusional perempuan di dalam undang-undang di dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang perikanan. Dalam undang-undang ini , nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan (Pasal 1 ayat 10). Dengan definisi ini, maka hanya laki-laki yang bias disebut sebagai nelayan karena secara umum pekerjaan ini hanya dilakukan oleh laki-laki. Sebaliknya, perempuan nelayan tak tergolong sebagai nelayan, mengingat aktivitas yang dilakukannya selepas penangkapan ikan.
Seperti kita ketahui, perempuan mempunyai andil amat besar dalam berkelanjutan kehidupan masyarakat pesisir,Jika kelalaian ini terus dibiarkan ,bisa dipastikan bahwa perempuan nelayan akan terus terjebak pada zona yang seperti ini,akan selalu terhambat oleh budaya dan ideology yang ada.Mereka tidak dapat mengkomunikasikan apa yang mereka inginkan.
Munculnya ketidaksetaraan gender sebagai ideologi umum yang menjadi cara pandang masyarakat terhadap eksistensi perempuan, tidak terlepas dari cerita sejarah berkaitan dengan lahirnya perbedaan gender (gender differences) antara manusia laki-laki dan perempuan.Prosesnya panjang dan perbedaan itu dikarenakan oleh banyak hal ,diantaranya bentuk,disosialisasikan ,diperkuat bahkan dikonstruksikan secara cultural atau social ,melalui ajaran moral dan adat istiadat ,sehingga sosialisasi gender yang panjang itu akhirnya dianggap sebagai ketentuan tuhan dan bersifat biologis yang tidak bisa diubah-ubah lagi.Ini berarti bahwa perbedaan-perbedaan gender itu telah dipersepsi sebagai kodrat laki-laki dan kodrat perempuan yang harus diterima apa adanya.
Sumber :
Laode,Yahya.(2009).Perlawanan Terhadap Dominasi Laki-Laki Morodemak: Analisis framing Majalah Kabar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar