Written By Sena on Selasa, 28 Agustus 2012 | 09.58
| TERGULING: Timas SAR mendirikan kembali perahu larung yang terguling. (HARSEM/SUKMA WIJAYA) |
DEMAK-Tradisi sedekah laut dan larung sesaji di Pelabuhan
Perikanan Pantai (PPP) Morodemak Desa Purworejo Bonang, kemarin ditandai
tergulingnya perahu sesaji. Sejumlah orang bertanya-tanya pertanda apa?
SUDAH menjadi tradisi, tiga desa di kecamatan Bonang, yaitu Morodemak, Purworejo, dan Margolinduk menggelar tradisi sedekah laut dan larung sesaji setiap 7 Syawal. Ini sebagai simbol rasa syukur nelayan atas tangkapan ikan selama setahun.
SUDAH menjadi tradisi, tiga desa di kecamatan Bonang, yaitu Morodemak, Purworejo, dan Margolinduk menggelar tradisi sedekah laut dan larung sesaji setiap 7 Syawal. Ini sebagai simbol rasa syukur nelayan atas tangkapan ikan selama setahun.
Oleh pemerintah daerah, tradisi dimasukkan dalam agenda wisata tahunan.
Dimeriahkan hiburan wayang kulit, orkes dangdut hingga layar tancap.
Prosesi larung dilakukan secara sakral oleh bupati dengan dikawal
prajurit petangpuluhan (empat puluhan), muspida, dan masyarakat.
Sudah menjadi kepercayaan, sedekah laut akan meningkatkan tangkapan
ikan. “Pernah beberapa tahun lalu warga tak mengadakan sedekah laut.
Entah kebetulan atau tidak, nelayan sulit mencari ikan,” ungkap sesepuh
Desa Purworejo, H Iskandar.
Dipercaya masyarakat, penunggu di pesisir Morodemak benama Jeliteng.
Nelayan menduga Jeliteng mengganggu nelayan menangkap ikan. Seseorang
kiai mengingatkan agar menggelar sedekah laut sebagai wujud syukur pada
pencipta. Warga manut, dan ternyata ada perbedaan dengan kondisi
sebelumnya. Akhirnya warga menyakini perlu ada sedekah laut.
Soal perahu larung berisi sesaji yang terguling, Iskandar tak berani
menduga sebagai firasat. Dia berdoa tak menjadi pertanda dari sebuah
musibah. “Kasihan warga di tiga desa tersebut rata-rata berpenghasilan
kurang atau miskin, semoga tak ada apa-apa,” saut Kades Purworejo Ali
Mas’ad.
Tradisi sedekah laut sudah menjadi ajang silaturahmi para masyarakat
nelayan. Persoalan perahu terguling semoga bukan menjadi pertanda akan
terjadinya peristiwa yang merugikan masyarakat pesisir.
Terpisah, Plt Bupati HM Dachirin Said mengutarakan sedekah laut merupakan tradisi apik yang dikemas dalam agenda wisata tahunan. “Kami kemas secara profesional sehingga bisa menyerap pemasukan daerah,” ungkapnya. Sekaligus memberikan lahan pekerjaan kepada masyarakat sekitar.
Terpisah, Plt Bupati HM Dachirin Said mengutarakan sedekah laut merupakan tradisi apik yang dikemas dalam agenda wisata tahunan. “Kami kemas secara profesional sehingga bisa menyerap pemasukan daerah,” ungkapnya. Sekaligus memberikan lahan pekerjaan kepada masyarakat sekitar.
Dachirin membantah jumlah pengujung turun. Dia mengakui ada tradisi
serupa di pesisir Wedung tak jauh dari Morodemak. “Sedekah laut di
Wedung juga kami dukung untuk mendulang wisatawan,” kata Dachirin.
Keramaian di Wedung juga mengundang minat pengunjung. Perusda Anwusa
menggelar orkes dangdut di Pantai Morosari Kecamatan Sayung dan membuka
even acara syawalan di Taman Ria Demak.
“Biasanya sedekah laut di Morodemak ramai hingga jalan menuju pelabuhan
macet. Sekarang pengunjung berkurang,” ungkap Edi Purhadi warga Bonang.
Sedekah laut Morodemak tahun lalu hingga dipadati puluhan ribu pengunjung. Sekarang tak sampai lima ribu.
Edi mengakui menyusutnya pengunjung akibat terserap even-even hiburan di
temnpat lain. Dia juga masyarakat lebih memilih mengunjungi kerabat
atau saudaranya saat syawalan ketimbang pergi ke lokasi hiburan yang
ramai. (swi/16)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar