dEwA 'N MnZz 'Blog Campur Aduk Blog'e Cah Surungan

Minggu, 23 Juni 2013

Suami yang Melaut, Istri Nelayan yang Mengolah Hasilnya

Selepas azan asar, panas matahari masih menyengat di Desa Morodemak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Masnuah, warga desa di pesisir ini, menyalakan kipas angin di rumahnya.Dia mengibas-ngibas tangan kegerahan. Sejak awal buian.hujan jarang turun di desanya. "Empat tahun belakangan ini cuaca tidak menentu," tuturnya. Perempuan berusia 37 tahun ini masih ingat, musim hujan seharusnya dimulai November hingga Maret. Sementara kemarau berlangsung pada April hingga Oktober. Cuaca yang tidak bisa diprediksi ini menurunkan hasil tangkapan ikan para nelayan.

Ketika nelayan sampai di tengah laut tiba-tiba langit menghitam dan hujan turun. Alhasil,mereka harus pulang dengan tangan kosong. Padahal, lima tahun lalu nelayan begitu mudah mendapat tongkol, tenggiri, dan ikan lain menjelang musim hu jan. "Perubahan iklim ini sangat berpengaruh terhadap nelayan," kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Demak, Muhtar KM. Ombak besar menggagalkan nelayan melaut.

Merosotnya pendapatan nelayan berpengaruh pada ekonomi rumah tangga. Para istri nelayan akhirnya menjadi korban. Mereka wara-wiri mencari utang dan menggadaikan barang padasaat suaminya tak melaut atau cuma dapat beberapa ikan. "Hanya melaut pekerjaan andalan masyarakat pesisir, keterampilan lain tak punya," ujar Masnuah. Dia menilai kultur patriarki di Morodemak sebagai biang keladi. "Mereka harus diberdayakan," kata Masnuah.

Sebelumnya keinginan Masnuah untuk memberdayakan para perempuan di desanya tidak mendapat dukungan, termasuk dari para tetangganya sesama perempuan. Dia pernah mengajak para perempuan di Desa Morodemak untuk aktif dalam kelompok,melakukan kegiatan peningkatan perekonomian keluarga. Paradigma budaya di Morodemak, terutama bagi masyarakat pesisir yang masih kental budaya patriarkinya, menganggap perempuan yang banyak keluar rumah sebagai perempuan yang kurang baik.

Pelabelan yang kurang baik itu juga sempat menghampirinya. Masnuah memang terbilang aktif untuk seorang perempuan. Dia ra jin mengikuti berbagai pelatihan dari kelompok LSM seperti pelatihan untuk pembibitan penanaman mangrove dan pengolahan sampah di kawasan pesisir. Dia juga sempat mengikuti kajian bidang hukum yang dilakukan LBH Semarang.

Maka tak heran jika jiwa kritisnya muncul. Perempuan yang menikah pada 1992 ini tak bisa menunggu lagi, melihat ketimpangan yang terjadi di desanya. Perempuan sering menjadi sasaran kekerasan dalam rumahtangga (KDRT) akibat kesulitan ekonomi.

"Tingkat KDRT di sini tinggi sekali. Saya tidak suka diammenunggu, terutama saat kondisi ekonomi suut," ungkap Masnuah, bernada serius.

Tak jarang dia mendapat ancaman dari lingkungan sekitarnya. Masnuah dianggap turut campur kehidupan rumah tangga orang lain.Tapi, hati nuraninya mengatakan dirinya benar, hanya ingin membela hak korban.

Keluarga, suami, dan mertuanya pun khawatir. Syukurlah, sedikit demi sedikit penjelasan Masnuah meredam kekhawatiran. Sekarang upaya Masnuah justru didukung keluarganya.

Pada Desember 2005, Masnuah memulai inisiatifmembentuk kelompok perempuan nelayan bernama Puspita Bahari. Misi organisasi ini adalah menjadikan perempuan sebagai kelompok yang mandiri melalui kegiatan pemberdayaan dan peningkatan ekonomi, kelompok perempuan nelayan ini juga mendampingi kasus KDRT dan disokong LBH Semarang dan LBH Apik.

Bagi Masnuah, pendukung perikanan seperti pengolahan, produksi, hingga penjualan idealnya dikerjakan perempuan. Sampai pada saat bapak-bapak nelayan pergi melaut, semua persiapan bekal perempuan yang melakukan.

"Selama ini yang diidentikkan nelayan adalah laki-laki, padahal perempuan di kawasan pesisir juga bisadisebut nelayan," ujarnya.

Kelompok perempuan nelayan mulai membuat koperasi dengan cara memberikan iuran Rpl.000 per bulan untuk setiap anggota. Masnuah keliling Desa Morodemak, mengajak perempuan-perempuan di desanya menabung untuk menghadapi musim paceklik.

Langkahnya terhenti karena banyak anggota koperasi yang menunggak. "Para istri menghabiskan uang untuk membayar utang atau arisan. Padahal halim justru memutar kembali utangnya," katanya.

Kelompok ini kemudian beralih menjadi koperasi beras. Lagi-lagi, kegiatannya mandek karena tak cukup modal. Keadaan sedikit berubah ketika pada 2009,kelompok perempuan nelayan ini memulai usaha mengolah hasil laut menjadi kerupuk ikan yang terbuat dari bahan dasar tepung tapioka, ikan, bumbu, dan air. .

Mereka diberi fasilitas oleh Lembaga Pendampingan Usaha Buruh Tani Nelayan (LFUBTN). Lembaga ini menyumbang peralatan dan tempat produksi dari bambu. Sayang, pada tahun ketiga usaha ini oleng karena bangunannya hancur oleh angin puting beliung yang melanda Demak belum lama ini.

Pengolahan produksi kemudian dilakukan di rumah Masnuah dan seorang anggota lainnya. "Kerupuk ikan sebetulnya menjadi budaya olahan di Morodemak," kata Masnuah yang baru saja mendapat penghargaan Kusala Swadaya sebagai pelaku kelompok wirausaha sosial.

Masnuah memimpikan, kelompoknya bisa memiliki tempat produksi yang layak. Saat ini belum ada bantuan dari pemerintah, baik dari Dinas Perikanan dan Kelautan maupun Dinas Perdagangan. Bantuan justru datang dari organisasi nonpemerintahberupa tiga kapaldari LBH Apik, Kiara, dan Dompet Dhuafa. Kapal itu dipakai melaut oleh parasuami anggota Kelompok Nelayan Perempuan Puspita Bahari.

Masnuah berharap pemerintah membantu membangun tempat pengolahan atau pengalengan ikan sehingga saat panen ikan tidak ada yang terbuang. Saat ini ada 10 anggota yang mengelola produksi kerupuk ikan dengan cara manual. Satu bungkus dijual dengan harga Rp5.000. Dalam sehari kelompok ini memproduksi 25 kg ikan dengan laba kotor Rp. 800.000.

Memang.produksi kerupuk ikan tidak bisa dilakukan setiap hari karena bergantung pada cuaca dan bahan ikan. Namun, dengan usaha ini tidak ada ikan yang terbuang pada saat panen. Selain untuk kerupuk.ikan-ikan itu juga untuk ikan asin, tepung ikan, dan abon ikan.

Lebih dari itu, tak ada lagi perempuan nelayan warga desa yang menganggur. "Saat musim paceklik nelayan masih bisa mendapatkan penghasilan," kata Masnuah.
Sumber : Harian Seputar Indonesia 10 Januari 2011,hal. 2